• Home > Berita

BAGAIMANAKAH PETENIS MENCIPTAKAN POWER SERVIS ?

Yadi Sunaryadi, Bambang A.J

(Litbang Pengprov Pelti Jawa Barat)

 

Dalam pukulan servis tenis, seringkali kita dibingungkan dengan persoalan - elemen-elemen apakah yang dianggap paling penting dari pukulan servis ini, dan bagaimanakah seorang petenis profesional dapat menunjukkan model teknik servis yang paling baik ? Jenis  bantuan petunjuk atau pengajaran apakah yang kiranya dapat meningkatkan kemampuan petenis untuk memperbaiki pukulan servisnya ?

Pukulan servis yang lemah tentu akan menjadi tanggung jawab seorang petenis ketika mengeksekusi servisnya.  Pada tingkatan petenis profesional, mempertahankan pukulan servisnya tidak terjadi begitu saja secara kebetulan, sangat berlainan dengan para petenis klub dan rekreasi, hal itu tidak lain karena mereka memiliki teknik servis  yang begitu sangat baik. 

Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan kontribusi dari bagian-bagian anggota tubuh (segmen) yang beraksi ketika menghasilkan power atau kekuatan pukulan servis dalam permainan tenis. Pembahasan artikel ini didasarkan pada reviu literatur, terutama yang berkaitan dengan kajian tentang mekanika gerak servis (biomechanics of tennis serve). Beberapa diantaranya merupakan hasil riset yang telah dilakukan beberapa ahli biomekanika tenis yang dipergunakan sebagai rujukan utama oleh International Tennis Federation (ITF).

 

Kalau kita amati bahwa gerakan servis dalam permainan tenis nampaknya memiliki kesamaan dengan gerak lemparan pitching (throwing) dalam olahraga baseball, atau smes bulutangkis. Bila gerakan tungkai yang baik disinkronisasikan dengan mekanika tubuh bagian atas secara benar, maka pukulan servis yang dihasilkan akan menjadi senjata yang mematikan. Sekalipun demikian, kebanyakan petenis mempunyai kesulitan dalam memperoleh hasil servis yang memuaskan, yaitu hasil servis yang kurang menghasilkan power dan akurasi yang rendah (meskipun kedua unsur ini sangat sulit untuk dicapai secara bersamaan, sesuai dengan prinsip speed-accuracy trade off), karena mereka kebanyakan tidak memanfaatkan secara keseluruhan gerakan segmen tubuhnya atau disebabkan oleh timing yang kurang baik antara berbagai bagian anggota tubuhnya. Hal ini akan menimbulkan persoalan bagi pemain tenis, terutama bagi mereka yang ingin mengikuti pertandingan tenis di tingkat yang lebih profesional. Kebanyakan dari mereka kurang menyadari bahwa teknik pukulan servis ini merupakan jenis pukulan yang paling penting dalam permainan tenis (Ashe,1975; Elliot & Kinderry,1983; King,1981).

Sebagaimana kita ketahui bahwa pukulan servis mengawali setiap perolehan angka dalam suatu pertandingan dan akan membantu setiap petenis untuk memperoleh angka secara efektif, atau bahkan akan direbut lawan jika servisnya tidak dilakukan dengan baik. Dengan kata lain, servis dapat menyebabkan seorang petenis memenangkan pertandingan atau menyebabkan kekalahan. Pukulan servis merupakan keterampilan dalam kategori keterampilan tertutup (closed skill) dimana kontrol sepenuhnya berada pada pemain yang melakukan servis, dan merupakan pukulan paling penting dalam permainan tenis. Akan tetapi jenis pukulan ini sangat sulit untuk dikuasai, karena salah satu anggota tubuh bagian atas harus bertugas menempatkan bola (tossing) pada ketinggian pukulan yang optimal, sedangkan anggota tubuh bagian atas lainnya harus mengayunkan raket dengan pola gerakan yang kompleks dan harus mengkombinasikan antara power dan kontrol. Bukan hanya kedua lengan saja yang menentukan pola-pola gerak dan irama yang berbeda, tetapi juga harus dikoordinasikan dengan gerakan anggota tubuh bagian bawah (lower limbs). Bila seorang petenis melakukan servis dengan keras, maka  bola  hasil pukulannya akan meninggalkan raket lebih cepat dari pada yang dihasilkan dari pukulan groundstrokenya. Hal ini disebabkan karena kecepatan raket yang diperlukan untuk melakukan servis lebih tinggi dari pada kecepatan raket untuk melakukan groundstroke. Karena bola yang akan dipukul berada dalam kedudukan diam, oleh karena itu atlet harus mengerahkan seluruh kekuatannya, dan satu-satunya cara adalah dengan cara menggerakkan raket secepat mungkin pada saat impact dengan bola.

Persoalan-persoalan tentang keterlibatan segmen tubuh dalam memberikan kontribusinya terhadap kekuatan servis kiranya menarik untuk dibahas, dan dalam pembahasan ini akan didiskusikan aspek-aspek mekanika servis dari petenis elit, bagaimana proses terjadinya transfer kekuatan yang diciptakan tubuh terhadap raket dan bolanya ditinjau dari sudut biomekanika olahraga.  Berikut ini gambaran rangkaian segmen-segmen tubuh (sequencing of body segments) yang terjadi ketika melakukan servis:

Gambar 1. Sequencing of body segments.  Kecepatan segmen sebelumnya ditambahkan pada kecepatan segmen  berikutnya sehingga          memperbesar kecepatan kumulatif total (Crespo & Milley, 1998)

Besarnya kontribusi yang sesuai diberikan masing-masing segmen dapat digambarkan dengan staircase effect seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 2. Rangkaian penjumlahan kecepatan seluruh segmen tubuh berbentuk staircase effect, yang membantu meningkatkan kecepatan raket saat impact (Crespo & Milley, 1998)

Kontribusi yang diberikan dari masing-masing segmen tubuh adalah sebagai berikut:

Bagian Anggota Tubuh

Kekuatan yang dihasilkan

Dorongan Tungkai (Leg drive)

Meningkatkan kecepatan panggul

Rotasi Togok dan Bahu (Trunk & shoulder rotation)

Meningkatkan kecepatan bahu

Elevasi lengan atas (Upper arm elevation)

Meningkatkan kecepatan sikut

Ekstensi dan pronasi lengan bawah (Forearm extension & pronation)

Mengatur raket ketika impact dan meningkatkan kecepatan pergelangan tangan

Fleksi tangan (Hand flexion)

Meningkatkan kecepatan raket

Sumber: Crespo, M. & Miley, D (1998). Advanced Coaches Manual. ITF. England

Bagian selanjutnya akan dipaparkan tentang rangkaian segmen tubuh yang menghasilkan pukulan servis efisien:

Fleksi dan Ekstensi Lutut  (Knees Flexion and Extension)

Berlawanan dengan apa yang diketahui banyak orang, bahwa kekuatan yang diciptakan tubuh untuk melakukan pukulan servis sebenarnya tidak hanya diciptakan dari rotasi togok (trunk) dan kekuatan ayunan lengan saja. Tetapi kebanyakan kekuatan itu diciptakan dari tanah (bumi) dalam bentuk kekuatan reaksi dari bumi (the ground reaction force/GRF). Kita ketahui bahwa bunyi hukum Newton III: For every action, there is an equal and opposite reaction (hukum aksi-reaksi). Pada saat petenis melakukan servis, maka kakinya mendorong bumi  dan bumi (lapangan tenis) juga mendorong kembali dengan jumlah kekuatan yang sama besar dan berlawanan arah. Sangat sedikit sekali petenis yang mengambil keuntungan dengan menggunakan prinsip ini. Jelaslah bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan kekuatan reaksi ini adalah gerakan fleksi dan ekstensi lutut yang benar (Groppel, 1992). Dua persoalan yang seringkali menghambat petenis dalam mengatur gerakan lutut tersebut adalah :terlalu sedikit atau terlalu besar fleksi lututnya, serta timing gerakan lutut yang kurang tepat. Besarnya gerakan fleksi lutut yang tepat sebenarnya tergantung kepada kekuatan dan koordinasi petenis itu sendiri. Besarnya gerakan fleksi lutut tersebut adalah khas bagi tiap petenis. Tanpa gerakan fleksi lutut yang memadai, maka seorang petenis akan meenciptakan kekuatan reaksi dorongan dari bawah yang kurang baik, sedangkan terlalu besar gerakan fleksi lututnya juga akan mengakibatkan gerakan tubuh yang berlebihan dan transfer kekuatan dari tanah tidak  efisien.

Persoalan kedua yang dihadapi oleh kebanyakan petenis adalah timing gerakan lutut yang kurang baik. Pada tubuh manusia, bagian-bagian anggota tubuh berfungsi sebagai suatu sistem hubungan berantai (kinetic link system), dimana kekuatan yang diciptakan oleh salah satu bagian tubuh dipindahkan ke bagian tubuh lainnya. Bila transfer kekuatan itu tidak efisien, maka hasil pukulan servis tidak akan memuaskan seperti yang diinginkan. Oleh karena gerakan fleksi lutut itu merupakan gerakan yang mengawali dari  keseluruhan gerakan tubuh yang digunakan dalam melakukan servis, maka gerakan lutut itu  berfungsi sebagai pondasi bagi gerakan bagian anggota tubuh lainnya.

Gerakan Pinggul (Hip Action)

Masih banyak pelatih tenis yang masih mempertanyakan keterlibatan pinggul dalam melakukan pukulan servis, oleh karena itu mereka cenderung mengabaikan kepentingan dari pinggul ini. Para pelatih tenis profesional selalu  menyadari akan kegunaan dari tungkai dan tonggok, karena gerakan bagian tubuh ini dapat diamati dengan jelas. Akan tetapi, pengetahuan yang ada saat ini menyatakan bahwa rotasi pinggul (hip rotation) merupakan komponen yang paling penting dalam membedakan antara teknik servis yang efisien dengan teknik servis yang kurang efisien. Pinggul merupakan daerah tubuh dimana seorang petenis yang terampil mentransfer momentum linier dan momentum anguler yang diciptakan oleh tungkai ke arah togok. Jika pinggulnya tidak digunakan dengan memadai selama melakukan servis, maka servisnya tidak akan efektif. Oleh karena itu mengapa para petenis profesional dunia seperti Samuel Groth (AUS, 263.4 kph, servis tercepat), John Isner (USA, 253 kph), Milos Raonic (CAN, 250 kph), Novac Jokovic (Serbia), Roger Federer (Swiss) (https://tenniscompanion.org/fastest-tennis-serves/),  dan lain-lain mempunyai servis yang keras. Mereka selalu memukul bolanya pada saat bola itu turun dari ketinggian puncak lemparan bolanya  dengan  kecepatan ayunan raketnya tinggi  yang dihasilkan dari ekstensi tungkai dan rotasi pinggul serta togoknya. Tanpa timing dari perputaran pinggulnya yang luar biasa, bahkan servis para petenis duniapun hanya akan merupakan servis yang lemah dan bukannya servis petenis terbaik dunia saat ini. 

Perputaran Togok (Trunk Rotation)

          Setelah kekuatan dipindahkan secara efektif ke pinggul dan pinggul mencapai kekuatan perputaran yang maksimum, maka selanjutnya terjadi rotasi pada togok. Besarnya rotasi togok bervariasi dari setiap petenis. Beberapa petenis dapat menciptakan kecepatan anguler (kecepatan rotasi) yang sangat besar dengan menggunakan rotasi togok yang besar. Ketika melakukan servis, pinggulnya terlihat menghadap kearah samping dan sedikit membelakangi lapangan permainan. Dengan melakukan gerakan seperti ini, maka seorang petenis akan mampu menciptakan sejumlah besar momentum anguler dari gerak rotasi togoknya. Sekalipun demikian, gerak rotasi togok yang berlebihan secara efisien sangatlah sulit, karena harus dirangkaikan dengan gerakan lainnya secara benar.

Gambar 3. Sequence form servis Boris Becker 

 

Gerakan Lengan (Upper limb Motion)

Komponen selanjutnya dalam sistem kekuatan berantai adalah perputaran lengan pada bahu. Ketika togok mencapai kecepatan rotasi tertinggi, maka lengan yang memegang raket harus sudah siap untuk melakukan gerak ayunan ke depan (forwardswing), yang juga dikenal sebagai force producing movement. Gerakan lengan selama ayunan ke belakang (backswing) digunakan untuk membantu menyiapkan pinggul dan togok untuk melakukan gerakan rotasinya berturut-turut ke depan serta menyiapkan irama pukulan. Pada waktu lengan berada pada posisi backswing, maka lengan berputar pada bahu ke arah luar. Pada saat terjadi ayunan ke depan, maka lengan atas berputar ke arah dalam dengan kecepatan tinggi. Hasil riset yang dilakukan oleh Gheluwe dan Hebbelinck (1985) dari Vrije Universiteit Brussel Belgia tentang gerakan lengan, memperlihatkan bahwa percepatan akhir dan tertinggi raket sebelum impact diakibatkan oleh pronasi lengan bawah yang aktif, dan diikuti dengan endorotasi lengan atas secara serentak. Perubahan gerakan pronasi menjadi supinasi pada akhir percepatan raket tepat sebelum impact bertujuan untuk mempertahankan orientasi impact raket yang benar dan untuk menghindari orientasi overpronasi raket selama kontak dengan bola. Elliott dkk (1995) dari Universitas Western Australia melakukan riset tentang besarnya kontribusi yang diberikan tangan, lengan dan bahu terhadap kecepatan linier raket pada saat impact, hasilnya menunjukkan bahwa: rotasi lengan ke arah dalam (54,2%), fleksi tangan (31%), fleksi dan abduksi horisontal lengan atas (12,9%), dan kecepatan linier bahu (9,7%), ekstensi lengan bawah pada sendi sikut adalah adalah negatif (-14,4%) yang menunjukan terjadinya penurunan kecepatan raket ke depan pada saat impact. Hasil riset lainnya yang dilakukan Marsh dkk (1986) tentang kecepatan linier segmen dan raket dilaporkan bahwa kecepatan linier panggul, sikut, pergelangan tangan, dan raket selama servis meningkat dari proksimal ke distal sampai impact.

Gerakan Sikut (Elbow Action)   

Gerakan sikut terjadi setelah petenis mempercepat kepala raketnya ke arah titik impact. Dua jenis gerakan yang terjadi pada sikut adalah; gerak ekstensi dari posisi fleksi yang diperoleh pada saat backswing dan gerakan pronasi (memutar ke arah luar) dari tangan dan lengan bawah. Kecepatan kedua gerakan ini sangat tinggi dan simultan, menyebabkan sendi sikut benar-benar mudah kena cedera, terutama extensor carpi radialis brevis (ECRB) yang menyebabkan apa yang di sebut dengan tenis ellbow (Denise dkk , 2007). Oleh karena itu, untuk mengembangkan gerakan ini mulailah dengan perlahan sampai memperoleh irama gerak pukulan yang benar.

Gerakan Pergelangan Tangan (Wrist Action)

Beberapa pelatih tenis profesional menganggap bahwa pada pukulan servis, gerak pronasi merupakan gerakan terakhir sebelum raket kontak dengan bola. Para pelatih tersebut percaya bahwa gerakan lecutan pergelangan tangan (wrist snap) tidak terjadi sampai setelah bola itu dipukul, meskipun kita ketahui bahwa setelah impact gerakan fleksi pergelangan tangan dapat terlihat jelas selama gerak lanjut (follow-through).  Meskipun para pelatih menganggap bahwa gerakan lecutan tidak terjadi sebelum kontak dengan bola, tetapi mereka menganjurkan para petenis untuk menggunakan gerakan ini bilamana ingin mengembangkan pukulan servisnya, karena gerakan pergelangan ini akan mempercepat kepala raket sampai kontak dengan bola.    Para ahli tenis lainnya mengatakan bahwa gerakan hiperekstensi pergelangan tangan terjadi selama tahap backswing akhir dan pada tahap awal forwardswing. Karena kepala raket dipercepat ke arah kontak, maka tangan menekuk di pergelangan sampai tangan hampir sejajar dengan lengan bawah dan benar-benar melecut raket melalui impact sampai ke posisi fleksi. Beberapa riset yang telah dilakukan menunjukan bahwa selama gerakan servis, fiksasi pada sikut dan pergelangan tangan tidak terjadi sama sekali, bahkan pada waktu impact. Sebaliknya, gerakan sikut yang cepat dan gerakan pergelangan tangan (efek wrist snap) diperlukan untuk mempercepat raket ke arah depan (impact). Peningkatan kecepatan yang diakibatkan oleh lecutan pergelangan tangan adalah sekitar 10% selama melakukan gerakan servis. Selama melakukan gerakan servis, petenis harus melawan kekuatan yang menarik ke arah luar (centrifugal force) yang besarnya lebih dari 10 kg, yang bertujuan untuk mempertahankan agar raket selalu berada dalam genggaman tangan, besarnya kekuatan ini adalah dua sampai tiga kali besarnya kekuatan selama melakukan forehand groundstroke (Gheluwe dan Hebbelink,1998).

Analisis untuk memperoleh gambaran tentang sumber kekuatan yang berasal dari gerakan-gerakan segmen tubuh pada waktu melakukan servis ini, dilakukan dengan menggunakan analisis tiga dimensi (3D Computer - Assissted Video System). Oleh karena itu, penggunaan teknologi kamera khusus dengan kecepatan tinggi (High speed camera) yang digunakan untuk merekam penampilan atlet, akan memberikan hasil yang lebih meyakinkan dari pada melakukan observasi yang dilakukan hanya dengan menggunakan mata telanjang saja.

Demikianlah kiranya pembahasan yang singkat ini, mudah-mudahan memberikan pencerahan kepada kita semua, terutama para penggiat olahraga tenis di Jawa Barat. Semoga

REFERENSI

Brody,H. (1987). Tennis Science for Tennis player. University of Pennsylvania Press,  Phipadelphia.

Cutchen,M.W. (2000). Introduction To Racquet Science. Objective Evaluation Concepts and  Answer To Frequently Asked Questions. Journal of Biomechanics

Denise Eygendaal, F Th G Rahussen, R L Diercks (2007). Biomechanics of The Elbow Joint in Tennis Players and Relation to Pathology. British Journal of Sports Medicine 2007;41:820-823.  BMJ Publishing Group Ltd & British Association of Sport and Exercise Medicine.

Elliot,B.,Marsh,T.,and Blanksby,B.(1986). A Three Dimensional Cinematographic Analysis of  Tennis   Serve. International Journal of Sport Biomechanics,1986, 2, 260-271

Elliot,B.,Marshall,R.and Noffal,G.(1995). Contributions of Upper Limb Segment Rotations   During The Power Serve in Tennis. Journal of Applied Biomechanics,1995,11,433-442.

Elliot,B.,Marshall,R.and Sprigings,E.(1994). A Three Dimensional Kinematic Method for Determining The Effectiveness of arm Segment Rotations in Producing Racquet-head Speed. Journal of Biomechanica,Vol.27,No.3

Groppel,J.L. (1992). High Tech Tennis. Second Edittion.Leisure Press.Champaign, IIIinois.

Miguel,C., Dave, M. (1998). Advanced Coaches Manual. International Tennis Federation, ITF Ltd, Bank Lane, Roehampton, London, SW15 5XZ, England

USPTA.,(1984). Tennis A Profesional Guide. Harper and Row Publishers, Inc.

Van Gheluwe,B.,Ruysscher,I.D.,Craenhals,J.(1987). Pronation and Endorotation of the Racket Arm in A Tennis Serve. International series on Biomechanics,Volume 6B

Van Gheluwe,Band Hebbelinck,M.(1998). A Three-Dimensional Cinematographical Analysis  of Arm and Racket at Impact in Tennis. Vrije Universiteit Brussel.

Yandell, John. (2000 ). Advanced tennis: Sampras serve the racquet path. Retrieved

October 29, 2001 from the World Wide Web: http//www// tennisone.com

 

 

You can share this post!