• Home > Berita

MEMAHAMI BIOMEKANIKA FOREHAND GROUNDSTROKE

Yadi Sunaryadi, Bambang A.J (Litbang Pengprov Pelti Jabar)

Apakah sebenarnya yang menyebabkan pukulan forehand groundstroke dapat dikatakan efisien  atau kurang efisien? Tentu semua orang akan menyatakan bahwa pukulan forehandnya Federer sangat efisien (Menurut saya sendiri, forehand Federer lebih efisien ketimbang forehand Rafael Nadal, meskipun memiliki kecepatan pukulan 79 mph. Bagaimanakah pendapat anda ?). Apakah karena pukulan forehand yang ditampilkannya sederhana dan elegan ?  Sepertinya kita seolah-olah merasa bahwa kita sendiri dapat memahami pukulan forehand Federer yang sungguh efisien, dengan rotasi pergelangan tangan yang cepat dan gerak lanjutannya yang menyatu pada seluruh pukulannya, sehingga sampai sekarang merupakan seorang petenis terbesar sepanjang sejarah dengan gelar 20 Grand Slam dan  103 karir gelar ATP, serta masih bertahan sebagai petenis profesional peringkat 3 dunia di usianya 38 tahun ! (rogerfederer.com). Teknik pukulannya nampak tidak banyak mengerahkan kekuatan secara berlebihan untuk menghasilkan pukulan forehandnya yang sangat keras (72 mph) dengan tingkat konsistensinya yang sangat tinggi.

Kebanyakan dari kita ketika sedang bermain tenis selalu berjuang bagaimana caranya supaya bisa mendominasi pukulan reli dari garis belakang menggunakan pukulan forehand groundstroke, dan ternyata seringkali masih begitu banyak membuat kesalahan sendiri (unforced error) (padahal lawan kita memiliki level keterampilan yang hampir sama dengan kita !). Mengapa demikian ? Kemungkinan besar kita kurang mengetahui dan memahami bagaimana dan apa sebenarnya yang terjadi ketika para petenis elit sedang mengeksekusi pukulan forehandnya. Kita hanya bisa melihat saja dengan jelas di televisi misalnya, ketika Federer berhasil melakukan passing-shot ketika berhadapan di final Wimbledon 2019 melawan Jokovic, atau berhasil mematikan Jokovic dengan pukulan inside-out forehandnya, meskipun filmya di-replay kembali secara slow motion.  Tak ada informasi penting yang kita peroleh dari penampilan teknik forehand kedua petenis hebat ini. Kita hanya memperoleh informasi bahwa pertandingan berlangsung selama 4 jam 57 menit dengan skor 7-6, 1-6, 7-6, 4-6, dan 13-12  yang dimenangkan Jokovic.

Seringkali diantara kita kurang begitu memahami fenomena gerak forehand yang kita tampilkan sendiri (padahal kita main tenis cukup intensif), ataupun mungkin karena aksi memukul bola merupakan aksi atau gerakan yang sangat cepat, sehingga sangatlah tidak mungkin bagi kita untuk melihat dengan mata telanjang ! Para petenis elit menggunakan segmen-segmen tubuhnya  dengan benar dan mampu merangkaikannya dengan timing yang tepat untuk menghasilkan pukulan bertenaga dengan tetap mempertahankan konsistensi pukulan yang cukup tinggi. (Meskipun frekuensi latihan kita cukup intensif, tetapi harus dipahami bahwa ungkapan practice makes perfect belum tentu benar seluruhnya. Mungkin ungkapan yang benar adalah only perfect practice makes perfect, oleh karena itu, latihan harus berkualitas !)

Pukulan forehand yang efisien dan efektif begitu penting untuk memperoleh keberhasilan bermain tenis pada berbagai tingkatan keterampilan. Pemahaman yang jelas tentang mekanika gerak pukulan forehand yang efisien akan membantu para pelatih ketika melakukan analisis performa forehand atletnya, sehingga performa forehandnya bisa meningkat.

Perubahan Teknik Pukulan Forehand

Permainan tenis telah berubah secara dramatis selama 30 tahun terakhir ini. Hal ini ditunjukkan misalnya dalam teknik dan strategi forehand groundstroke yang digunakan para petenis elit saat ini. Para petenis elit sekarang ini jarang lagi menggunakan teknik forehand tradisional dimana grip, backswing, forwardswing, dan follow-throughnya sangat sederhana. Malahan sekarang ini, kebanyakan petenis amatir dan profesional telah banyak menggunakan pukulan forehand topspin modern yang agresif dengan kecepatan pukulan yang begitu sangat tinggi.

Pukulan groundstroke forehand tradisional dilakukan menggunakan grip kontinental, posisi square atau open stance dengan jalur lintasan pukulan yang panjang dan koordinasi tubuh secara simultan atau bersamaan. Sedangkan pukulan forehand modern lebih sering dilakukan dengan posisi open stance dengan menggunakan koordinasi rangkaian dari berbagai bagian anggota tubuh (mulai dari tungkai, panggul, togok, bahu, lengan, dan terakhir tangan).  Meskipun para petenis elit selalu menggunakan 2 tipe stance groundstroke ini (Akutagawa & Kojima, 2005), tetapi karena waktu persiapan memukul yang begitu sangat singkat, maka telah terjadi pergantian menjadi teknik groundstroke dengan koordinasi berangkai. Perubahan-perubahan dalam teknik forehand tersebut telah berpengaruh terhadap jenis pegangan (grip), footwork, teknik backswing dan forwardswing yang dilakukan para petenis saat ini.

Seberapa baik kita melakukan pukulan forehand maka tidak terlepas dari salah satu faktor utama ini, yaitu : pemahaman biomekanika forehand (mekanika gerak forehand) : the science which investigate the internal and external forces that act on a human body or an animal (Hay, 1997). Dengan kata lain, ilmu tersebut menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan tubuh kita ketika sedang bergerak mengeksekusi pukulan forehand.

Memang ilmu biomekanika ini sangat sulit untuk dipahami (karena pemahaman beberapa konsep fisika mekanika dan teknologi canggih yang bisa mengidentifikasi gerakan yang sangat cepat ketika memukul bola tenis), tetapi pengetahuan ilmu ini sangat membantu memahami tentang apa yang terjadi ketika petenis mengeksekusi pukulan forehandnya (untuk lebih lengkapnya coba pelajari tulisan-tulisan jurnal biomechanics of tennis atau yang sudah dikompilasi oleh itf ).

Persiapan mengayunkan raket sama pentingnya dengan mengayunkan raket yang sebenarnya ketika akan memukul bola. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa pegangan raket (grip), stance, dan posisi tubuh kita benar, sehingga eksekusi pukulan forehand akan berhasil dilakukan dan bola akan melayang dengan kecepatan tinggi dan mendarat di daerah yang diinginkan.

Perubahan-perubahan dalam teknik forehand telah berpengaruh terhadap jenis pegangan (grip), footwork, teknik backswing dan forwardswing yang dilakukan para petenis saat ini. Perubahan-perubahan dalam teknik pukulan forehand ditandai pula dengan munculnya inovasi-inovasi disain raket baru. Ukuran raket semakin bertambah besar (mengubah letak center of gravity/ balance point dan sweet spot raket), lebih ringan, dan lebih kaku dari pada jenis raket sebelumnya, sehingga memudahkan para petenis untuk memukul bola dengan power dan kontrol tambahan yang lebih besar.

Pegangan raket (Grip)

Terdapat empat jenis pegangan: continental grip, eastern grip, semi western grip, dan western grip (USPTA, 1984). Keempat jenis pegangan ini menurut sejarahnya, muncul karena jenis lapangan yang digunakan. Misalnya continental grip muncul dan  digunakan di negara yang memiliki  jenis lapangan rumput (grass court) karena pantulan bolanya rendah, western grip lebih cocok digunakan di lapangan keras (hard court), karena pantulan bola hasil pukulannya tinggi di atas permukaan lapangan permainan (USPTA, 1984)

Fungsi pegangan adalah untuk memudahkan orientasi kepala raket yang benar saat kontak (impact) dengan bola. Oleh karena itu penempatan telapak tangan dan jari-jari tangan pada bagian handle raket harus benar (bisa modified trigger finger atau hammer grip) dan pergelangan tangan (wrist) pada posisi yang dianggap paling kokoh atau kuat ketika memegang handle raket. Dengan demikian, jika gripnya benar, maka akan sangat memudahkan mobilitas pergelangan tangan ketika raket diayunkan (Bahamonde & Knudson, 1998). Kita ketahui bahwa pergelangan tangan merupakan bagian tubuh paling akhir yang merupakan tempat dimana seluruh kekuatan ditransfer ke raket. Makanya jangan salah pegang raket, misalnya, western grip digunakan untuk melakukan servis, akibatnya pergelangan tangan akan mengalami kesulitan ketika melakukan snap !. Kiranya perlu direnungkan kembali ungkapan seperti “peganglah raket senyaman (comfortable) mungkin” yang sering diintruksikan pelatih kepada atletnya, padahal kenyataannya instruksi demikian masih membingungkan atletnya.

Para peneliti sepakat bahwa pegangan raket yang kuat (grip firmness) merupakan salah satu faktor penting ketika terjadi impact yang salah, yaitu ketika kontak tidak terjadi di bagian tengah raket (off-center impact) (Grabiner dkk, 1983) (desain raket wilson: pada raket Wilson, dikedua sisi kepala raket ditambah sedikit massa/berat atau Perimeter Weighting System (PWS), dengan tujuan untuk menstabilkan kepala raket ketika terjadi off-center contact, distribusi massa diperbesar ke arah samping lebar kepala raket (momen inersia diperbesar), sehingga kekuatan yang memutar raket (torque) karena bola kontak tidak di bagian tengah kepala raket, menjadi kecil).

Kebanyakan para pelatih profesional menyarankan menggunakan jenis pegangan forehand western atau semi-western dan bukannya pegangan eastern tradisional. Jenis pegangan western grip lebih banyak disukai karena lebih memberikan kemudahan untuk mengembangkan pukulan topspin dan mempertahankan orientasi raket saat kontak dengan bola. Salah satu kerugian dari jenis pegangan western ini adalah para petenis sedikit akan mengalami kesulitan ketika memukul bola yang memantul sangat rendah di atas lapangan permainan. Para peneliti lainnya menganjurkan penggunaan pegangan eastern grip, karena memberikan stabilitas pergelangan tangan (wrist stability) lebih besar dan memudahkan para petenis untuk memperoleh orientasi raket yang tepat ketika impact, tanpa mempedulikan ketinggian bola yang akan dipukul (Bahamonde & Knudson, 1998).  Riset telah dilakukan Elliott dkk tentang efek penggunaan grip forehand eastern dan western terhadap kontribusi rotasi segmen-segmen tubuh bagian atas dan kecepatan kepala raket. Hasilnya menunjukkan bahwa para petenis yang menggunakan western grip telah mampu menghasilkan kecepatan pukulan ke depan yang lebih besar (ke arah lapangan) dari pada para petenis yang menggunakan grip eastern (Elliott, 1997).

Sikap siap (stance)

Para petenis sekarang ini harus bereaksi lebih cepat dan dipaksa untuk memukul bola sambil berlari, karena power yang diciptakan dari pukulan groundstroke atau servis lawannya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan para petenis lebih banyak yang mengadopsi jenis open stance. Posisi stance tradisional (traditional square stance) memerlukan waktu yang lebih lama ketika mengeksekusi pukulan. Meskipun jenis stance ini mampu mengembangkan momentum linier, karena petenis melangkahkan kakinya lurus ke depan ke arah bola, dan momentum anguler yang diciptakan dari rotasi kedua tungkai, panggul, dan togoknya (Groppel, 1984). Berbeda dengan open stance, sikap stance ini hanya sedikit menghasilkan atau hampir tidak terjadi transfer momentum linier, karena langkah kaki (step) yang dilakukan ke arah samping bukan ke arah depan, dan hanya rotasi segmen yang digunakan untuk menghasilkan power saat forwardswing (silakan dipraktekkan di lapangan !).

Gambar. Stance forehand (Sumber: tennis warehouse.com)

Gambar. Square stance (Sumber: Tenis com Gesner Menegucci-Weebly)

Ayunan Raket ke Belakang (Backswing)

Persoalan lain yang masih kontroversi diantara para petenis dan pelatih yaitu termasuk jenis atau tipe backswing yang memfasilitasi kecepatan dan kontrol raket yang lebih besar. Telah lama diakui bahwa tipe ayunan tradisional, yaitu menarik raket lurus ke belakang (straight back backswing) menghasilkan kontrol yang lebih besar, dan tipe ayunan melingkar (loop backswing) yang besar ataupun kecil menghasilkan kecepatan yang lebih besar. Meskipun loop backswing yang besar (large-loop backswing) telah diperlihatkan meningkatkan kecepatan raket, tetapi berpengaruh terhadap kontrol dan timing raket (Knudson, 1991).  Sebaliknya, loop backswing dengan jalur ayunan kecil (small-loop backswing) nampaknya meningkatkan kecepatan raket tanpa berpengaruh terhadap kontrol dan timing raketnya ketika diayun (Groppel, 1984) (karena prinsip speed-accuracy trade off, yaitu ketika speed ditingkatkan maka akurasi atau kontrol akan menurun, dan sebaliknya).

Dengan tanpa memperhatikan tipe backswing yang digunakan, untuk menghasilkan power dan efisiensi pukulan, maka transisi antara backswing dan forwardswing sebaiknya dilakukan dengan gerakan yang terkontrol (fluid motion), karena akan meningkatkan kemampuan petenis untuk menggunakan kontraksi otot-ototnya yang sedang teregang dengan benar.

Ayunan Raket ke Depan (forward swing)

Tipe forwardswing juga telah dimodifikasi karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam permainan. Kebanyakan dari para petenis profesional menggunakan teknik forehand dengan menggunakan koordinasi berbagai segmen tubuh (multi-segment forehand technique) dimana tiap individu segmen dari bagian atas tubuh digunakan untuk mengembangkan kecepatan raketnya. Sebaliknya, pada forwardswing konvensional, segmen-segmen dari tubuh bagian atas (lengan) saja yang bergerak (single segment).  Riset yang dilakukan Elliott dkk (1989) menjelaskan tidak terdapat perbedaan dalam tipe grip atau footwork awal yang dipilih para petenis yang menggunakan ayunan forehand multi ataupun single segmen. Perbedaan-perbedaan yang nyata teramati selama fase backswing, kelompok multi segmen memiliki aksi lengan yang lebih kompak, dan kemudian selama forwardswing telah mengembangkan kecepatan raket yang lebih besar  (22.5 m/det) dari pada kelompok unit single segmen yang menghasilkan kecepatan bola lebih besar (19.3 m/det). Oleh karena itu, para petenis lebih dianjurkan untuk mempercepat ayunan raketnya dengan cara menggerakkan seluruh bagian anggota tubuhnya secara berangkai dan bukan dihasilkan dari gerakan lengan saja, selain menyebabkan rendahnya kecepatan raket juga akan menimbulkan cedera di lengan.

Para petenis perlu menciptakan sejumlah kekuatan (force), putaran bola (spin), dan lintasan bola yang berbeda dari berbagai posisi memukul, dan hal ini bisa dihasilkan dari adaptasi mekanika pukulan dan stancenya.  Situasi yang paling umum ketika open stance digunakan termasuk menghasilkan pukulan bola yang tajam ke tengah ataupun mendekati garis samping lapangan (down the middle ataupun down the line) dari garis belakang yang jelas memerlukan aktivasi pertuasan tubuh (leverage, aksi berbagai segmen tubuh) yang lebih banyak.  Rotasi bagian atas togok dan panggul yang kuat akan memudahkan transfer energi dari ekstremitas bawah (tungkai, panggul) ke ekstremitas atas (togok, bahu, lengan, tangan) pada forehand dengan square stance.  Togok bagian atas cenderung melakukan kontra rotasi sekitar  90 sampai 100 derajat dari posisi paralel dengan baseline dan sekitar 30 derajat di luar panggul pada bidang transverse (Takahashi dkk, 1996) pada persiapan pukulan (bidang transverse adalah bidang hayal yang membagi tubuh bagian atas dan bawah sama besar).  Kekuatan putaran ke depan (forward torque) untuk memutar panggul, mencapai puncaknya pada awal ayunan ke depan (Lino & Kojima, 2001). Rotasi ke depan dari togok bagian atas dihambat oleh aksi-aksi otot eksentrik (otot-otot yang teregang),  aduktor horisontal bahu dan kekuatan rotasi internal (Bahamonde & Knudson, 2003). Fleksor lengan bawah dan otot-otot yang terlibat ketika memegang raket juga penting untuk forehand.  Sejumlah besar rotasi sendi yang ditujukan untuk mempercepat raket ternyata bukan diciptakan oleh kontraksi otot-otot tersebut (Elliott dkk, 1997) atau karena kekuatan pegangan (grip) yang meningkatkan impuls bola (Knudson, 1989), tetapi karena energi dari tubuh bagian bawah dan togok yang harus ditransfer ke raket pada tahapan pukulan  selanjutnya.  Tipe pegangan yang dipilih dan ketinggian bola ketika impact berpengaruh secara signifikan terhadap kontribusi rotasi tangan/pergelangan tangan terhadap kecepatan raket (Elliott dkk, 1997).  Gerak rantai kinetika utama yang menciptakan kecepatan raket dalam forehand adalah rotasi togok, aduksi horisontal bahu, dan rotasi internal. Teknik forehand modern (khususnya yang menggunakan grip antara eastern dan western) dengan jelas melibatkan  koordinasi rangkaian yang mengambil keuntungan dari kontraksi eksentrik otot (eccentric contraction) yang diikuti kontraksi konsentrik  (concentric contraction) dari otot-otot yang sama (stretchshortening cycle muscle actions).

Selanjutnya pada gambar 1a-c memperlihatkan fase persiapan open stance forehand. Transfer berat badan (weight shift) petenis (Rafael Nadal) dari tungkai kanan ke tungkai kiri (petenis tangan kiri) memperlihatkan momentum linier horisontal yang digunakan untuk kontraksi awal tungkai kirinya untuk mengawali pukulan. Sejumlah energi yang disimpan pada tungkai ini dikonversi menjadi momentum ke arah atas (vertical linear), tetapi juga momentum ke depan (horizontal linear). Dorongan tungkai ini menggunakan kekuatan reaksi dorongan dari bawah (ground reaction forces) dan penting untuk transfer momentum linier ke momentum anguler dan pengembangan kecepatan raket yang tinggi. Pada gambar 1d-f, dapat kita lihat ayunan raket ke depan. Rotasi bahu dan panggul yang nampak jelas dari gb 1c-f adalah bukti penggunaan momentum anguler. Energi dari tungkai kiri ditransfer setelah panggul terbuka, diikuti dengan bahu.

Penyelesaian ayunan memperlihatkan eksekusi gerak lanjutan raketnya ke arah sasaran sampai terjadinya kontak dengan benar yang diikuti ayunan raket ke belakang atas kepala sebagai akibat dari komponen rotasi ayunannya yang sangat kuat. Gerak lanjutan ini (dimana raketnya benar-benar berhenti di atas kepala), merupakan suatu adaptasi bahwa kebanyakan petenis telah menggunakan kekuatannya, meskipun pada awalnya gerak lanjutan ini masih tertuju ke arah sasaran (gambar (1e), maka jalur pukulan secara keseluruhan (gambar 1f) berakhir di atas bahu yang menunjukkan petenis telah menerapkan spin yang lebih besar pada bolanya. Adaptasi ini juga sebagian merupakan akibat dari perubahan teknologi dalam string dan raket tenis yang memudahkan pengembangan power dan spin lebih besar yang menghasilkan marjin error yang besar dalam pukulannya.

Gambar (a–f ) Forehand groundstroke Rafael Nadal : (a–c) Fase persiapan open stance  forehand, (d–f ) menggambarkan  forward swing  (Sumber: Roetert dkk, 2008)

Orientasi dan Jalur Lintasan Raket

Selain dari perbedaan-perbedaan dalam tipe stance, grip, atau forwardswing, maka elemen-elemen kunci lain dalam pukulan forehand topspin adalah jalur lintasan pukulan (stroke arc) dan orientasi raket saat impact. Jalur lintasan raket dapat dipisahkan menjadi bidang vertikal dan horisontal (horizontal and vertical plane). Kebanyakan para peneliti setuju bahwa gerak horisontal raket sebaiknya menyerupai jalur lintasan datar (flattened arc) menjelang impact (Elliott dkk, 1987).  Besar sudut optimum raket pada bidang vertikal menunjukkan 28° (Knudson, 1991). Besarnya sudut ini memudahkan produksi spin yang lebih baik. Sudut yang lebih kecil cenderung menghasilkan sedikit spin sedangkan sudut yang lebih besar (muka raket semakin menghadap ke arah bawah) mengorbankan kecepatan bola dan ketajaman hasil pukulan (Mengapa bola tenis bisa berputar (spin) ? .Tidak lain adalah karena garis gaya (line of force) dari raket ketika kontak dengan bola tidak tepat mengenai titik berat (center of gravity) bola tenis, sehingga bola tenis akan berputar. Oleh karena itu, untuk menghasilkan spin pada bola tenis, maka permukaan daun raket tidak selalu harus miring ke atas (backspin) atau ke bawah (topspin), posisi daun raket tegakpun bisa, asalkan raketnya diayunkan dari bawah ke atas (topspin) atau dari atas ke bawah )

Perubahan-perubahan dalam footwork dan tipe forwardswing dapat mempengaruhi jalur lintasan pukulan. Misalnya, penggunaan ayunan forehand multi segmen menghasilkan jalur lintasan pukulan yang lebih kecil dan lintasan vertikal yang tajam ketika impact (Groppel, 1984).

Menurut Brody, jalur lintasan yang lebih kecil kurang akurat, karena menurunkan marjin eror yang disebabkan radius ayunannya (Brody, 1987).  Kebanyakan para peneliti menyetujui bahwa melakukan pukulan dengan posisi open stance tidaklah lebih efisien tetapi dilakukan sebagai akibat dari sedikitnya waktu persiapan yang tersedia untuk mengawali pukulan forehand (Groppel, 1984).  Penelitian yang dilakukan Knudson dan Bahamonde (1998) memperlihatkan bahwa posisi closed stance memudahkan sekelompok petenis profesional untuk mempertahankan jalur raket yang lebih akurat pada bidang horisontal.  Ketika para petenis menggunakan posisi open stance, maka menghasilkan penurunan waktu sebesar 60% ketika bolanya berhasil dipukul dengan muka raket dalam bidang horisontal

Momentum Linier dan Anguler

Salah satu persoalan penting yang menjadi perhatian para petenis adalah bagaimana mengembangkan power dan kontrol pukulan forehand yang lebih besar. Power dan kontrol keduanya dapat dicapai dengan mengembangkan momentum linier dan momentum anguler yang tepat.  Momentum linier adalah kuantitas atau jumlah gerak/tenaga linier yang dimiliki tubuh (Momentum adalah massa (m) atau berat  tubuh petenis yang sedang bergerak dengan kecepatan (V) tertentu). Dalam pukulan forehand, momentum linier diciptakan melalui kekuatan dorongan yang dihasilkan dari tanah (lapangan tenis) ketika petenis melangkahkan kakinya ke depan dan mentransfer berat badannya dari tungkai belakang ke tungkai depan (untuk footwork closed stance) (Groppel, 1984). Sedangkan momentum anguler adalah kuantitas atau jumlah gerak anguler atau rotasi yang dimiliki tubuh.  Momentum anguler dihasilkan dari kekuatan yang berasal dari bawah/tanah (ground reaction force, sering disingkat GRF) dan cenderung untuk menghasilkan rangkaian rotasi tubuh (tungkai, pinggul, togok, lengan dan raket) (Groppel, 1984). Rotasi togok yang optimal merupakan salah satu hasil dari momentum anguler. Telah ditunjukkan bahwa rotasi togok berkorelasi secara signifikan dengan kecepatan raket, tanpa mempersoalkan tipe stance yang digunakan atau tingkat keterampilan petenis (profesional atau intermediate) (Bahamonde & Knudson, 1998).  Rotasi togok tidak hanya berkontribusi terhadap kecepatan raket saja (sekitar 10% dari kecepatan akhir raket), tetapi juga digunakan dalam kontraksi otot-otot bahu yang teregang untuk memudahkannya menghasilkan tegangan yang lebih besar.

Penggunaan rantai kinetika secara optimal akan memaksimalkan performa dan menurunkan resiko cedera (Kibler, 2004). Oleh karena itu, studi  biomechanics of tennis forehand, tidak saja menemukan efisiensi pukulan forehand, tetapi juga pengetahuan ini membantu agar petenis terhindar dari resiko cedera.

REFERENSI

  1. Akutagawa S and Kojima T. Trunk rotation torques through the hip joints during the one-and two-handed backhand tennis strokes. J Sport Sci 23: 781–793, 2005
  2. Bahamonde, R. E. & Knudson, D. (1998). Kinematic analysis of the open and square stance tennis forehand. Med. Sci. Sports, 30(5), s29.
  3. Bahamonde R and Knudson D. Kinetics of the upper extremity in the open and square stance tennis forehand. J Sci Med Sport 6: 88–101, 2003.
  4. Brody, H (1987). Tennis Science for Tennis Player. University of Pennsylvania Press, Philadelphia.
  5. Elliott, B., Kotara, T. & Noffal, G. (`1997). The influence of grip position on upper limb contribution to racket head velocity in a tennis forehand. J Applied Biomech, 13, 182-196.
  6. Elliott, B., Marsh, T. & Overheu, P. (1987). The mechanics of the Lendl and conventional tennis forehands: A coach’s perpective. Sports Coach, Oct/Dec, 4-9.
  7. Elliott, B., Marsh, T. & Overheu, P. (1989). A biomechanical comparison of the multi-segment and single unit topspin forehand drives in tennis. Int J Sports Biomech, 5, 350-364
  8. Elliott B, Takahashi K, and Noffal G. The influence of grip position on the upper limb contributions to racket-head speed in the tennis forehand. J Appl Biomech 13: 182–196, 1997.
  9. Grabiner, M. D., Groppel, J. L. & Campbell, K. R. (1983). Resultant tennis ball velocity as a function of off-center impact and grip firmness. Med. Sci. Sports, 15, 542-544.
  10. Groppel, J. (1984). Tennis for Advanced Players. Human Kinetics: Champaign, Illinois.
  11. Hay,J (1997). The Biomechanics Sport Techniques. 4th Edition. Prentice Hall. Englewood Cliffs,  New Jersey
  12. Kibler, W.B. Kinetic chain contributions to elbow function and dysfunction in sports. Clin Sports Med 23: 545–552, 2004.
  13. Knudson, D. & Bahamonde, R. E. (1998). Impact kinematics of the open and square stance tennis forehand. 4th International Conference on Sports Medicine and Science in Tennis, Coral Gables, Florida.
  14. Knudson, D. (1991). The tennis topspin forehand drive: Technique changes and critical elements. Strategies, 5(1), 19-22.
  15. Knudson, D. V. (1991). Factors affecting force loading on the hand in the tennis forehand. J Sports Med Phys Fit, 31(4), 527-331.
  16. Iino, Y and Kojima T. Role of knee flexion and extension for rotating the trunk in a tennis forehand stroke. J Hum Mov Stud 45: 133–152, 2003.
  17. Roetert, E.P and Reid M. Linear and angular momentum. United States Tennis Association: High Performance Coaching Newsletter. 9(3): 5–8, 2008.
  18. Takahashi, K,. Elliott B, and Noffal G. The role of upper limb segment rotations in the development of spin in the tennis forehand. J Sci Med Sport 28: 106–113, 1996.
  19. United State Professional Tennis Association. (1984). Tennis: A Professional Guide. 1st Edition. Kodansha USA Inc

You can share this post!