• Home > Berita

BACKHAND SATU TANGAN VS DUA TANGAN (THE ONE &TWO-HANDED BACKHANDS): MANAKAH YANG LEBIH BAIK?

Yadi Sunaryadi & Bambang A.J

(Litbang Pengprov Pelti Jabar)

 

Teknik backhand satu tangan telah digunakan sejak olahraga tenis ini muncul sekitar tahun 1870-an. Teknik backhand dua tangan sebenarnya tidak terdengar sampai sekitar tahun 1930-an, ketika Vivian McGrath (Australia) menjadi petenis peringkat pertama dunia yang bertanding menggunakan teknik backhand ini. Sangat sedikit petenis yang menggunakan teknik backhand dua tangan ini setelah sekitar tahun 1970-an ketika teknik backhand ini menjadi semakin populer karena petenis Bjorn Borg (Swedia), Chris Evert (USA), Jimmy Connors (USA), dan Tracy Austin (USA) (Groppel, 1992). Tetapi mengapa tiba-tiba muncul begitu banyak petenis dunia yang menggunakan teknik backhand dua tangan saat ini ? Alasan apa sebenarnya yang menyebabkan para pelatih profesional dunia untuk mengajarkan teknik backhand dua tangan ini kepada para petenisnya ?

Pukulan backhand groundstroke seringkali menjadi hambatan (atau dianggap menakutkan !) bagi para pemain tenis rekreasi,  padahal merupakan bagian penting dari keterampilan tenis bersama-sama dengan pukulan forehand dan servis. Dahulu, para pelatih, petenis dan para ahli telah mempertimbangkan dan meyakini bahwa backhand topspin yang dilakukan dengan satu tangan (one-handed) ataupun dua tangan (two-handed) dianggap pukulan yang konsisten. Tetapi, permainan tenis modern saat ini telah menuntut para petenis untuk mengembangkan pukulan backhand itu sebagai pukulan yang diandalkan dan bertenaga seperti pukulan lainnya. Sehingga pukulan backhand terutama backhand dua tangan saat ini telah berubah menjadi senjata utama dari para petenis terkenal dunia (misalnya; Djokovic dan Juan Martin Del Potro, atau Andre Agassi )

Beberapa pelatih telah mengakui bahwa pemilihan salah satu teknik pukulan backhand merupakan salah satu yang diharapkan untuk dikembangkan.  Katakanlah pengembangan seperti mantan petenis no 1 dunia Pete Sampras (USA) dan Stefan Edberg (Swedia) memberikan contoh dua petenis yang berhasil mengubah teknik backhand ketika masa mudanya dari dua tangan menjadi satu tangan.  Terlepas dari berbagai faktor, maka kesesuaian pemilihan petenis, seperti yang diarahkan oleh pelatih, dapat berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan performa dan prestasinya.

Para ahli telah melakukan berbagai cara untuk memfasilitasi pemilihan teknik ini untuk membantu para petenis dan pelatihnya, dengan menjelaskan informasi yang berkaitan dengan karakteristik mekanika dari kedua teknik backhand tersebut, khususnya teknik backhand dua tangan  (Reid & Elliott, 2001).

Penjelasan awal cenderung didasarkan pada pengalaman (padahal pengalaman itu sebagian masih merupakan pengetahuan yang keliru !), sedikit yang dilakukan untuk memvalidasi evaluasi pelatih tentang teknik ini dan tak ada tujuan untuk mengklarifikasi keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian secara mekanika yang diharapkan dari tiap pukulan backhand tersebut.

Teknik backhand manakah yang sebaiknya digunakan ?

Kapanpun ketika para pelatih berdiskusi tentang backhand satu dan dua tangan, tentu saja terdapat beberapa poin yang menjadi perdebatan yang nampaknya menstimulasi munculnya perbedaan pendapat. Kelebihan-kelebihan yang diajukan dari tiap teknik backhand berkaitan dengan: pengembangan kecepatan (velocity generation), topspin, jangkauan raket (reach), penguasaan keterampilan (skill acquisition) dan kamuflase (disguise), yang menarik untuk diuji melalui riset (Groppel, 1992).

Diskusi yang dilakukan, termasuk usaha-usaha untuk mengklarifikasi poin-poin utama dari isu tersebut mengenai aplikasi open stance dalam pukulan backhand dan variasi mekanika dari teknik backhand dua tangan. Berikut di bawah ini menunjukkan perbandingan gambar rangkaian gerak (sequence form) dari dua petenis dunia peringkat atas Djokovic (backhand dua tangan) dan Federer (backhand satu tangan).

Gambar 1. Two-Handed Backhand Novak Djokovic

Gambar 2. One-Handed Backhand Roger Federer

Apa yang bisa kita amati dari kedua gambar teknik backhand tersebut di atas ?

1. Pengembangan Kecepatan (velocity generation)

Gambaran backhand satu tangan (the one-handed backhand) sebagai pukulan yang dilakukan dengan multi segmen (5 segmen) telah menerima banyak dukungan (Wang dkk, 1998) dan temuan saat ini telah menunjukkan hasil yang konsisten dengan pandangan tersebut. Rotasi sendi bahu, sikut dan pergelangan tangan petenis yang menggunakan backhand dua tangan telah menunjukkan bahwa (bertentangan dengan riset yang dilakukan Groppel, 1978), teknik backhand dua tangan (the two-handed backhand) sama menggunakan multi segmen. Riset sebelumnya menunjukkan bahwa teknik backhand dua tangan melibatkan dua segmen (bi-segmental coordination), yaitu hanya rotasi panggul dengan rotasi segmen togok yang menggerakkan raket. Sebenarnya, Koordinasi berangkai dari empat- lima segmen-segmen tubuh juga diperlukan untuk teknik backhand dua tangan: rotasi panggul, rotasi bahu dan beberapa derajat gerakan yang terjadi pada bahu, sikut dan pergelangan tangan yang berkontribusi terhadap pengembangan kekuatan selama eksekusi backhand.

 

Teknik backhand manakah yang mampu menghasilkan kecepatan raket yang lebih tinggi ketika impact ? Pengembangan kecepatan raket yang tinggi telah diyakini memerlukan radius rotasi (r = panjang lengan (dari sendi bahu) plus raket sampai titik kontak dengan bola) sebesar mungkin (hubungan kecepatan linier dan anguler) dan gerak ayunan (anguler/rotasi) terjadi melalui jalur ayunan yang paling besar; inilah karakteristik yang menguntungkan teknik backhand satu tangan. Sekalipun demikian, radius yang lebih pendek dari jalur teknik backhand dua tangan telah memberikan kecepatan rotasi (ayunan) kepala raket yang lebih besar ketika impact (momen inersia menurun), dan dengan demikian memiliki kecepatan linier ujung raket yang sebanding ketika impact (kecepatan ini yang menyebabkan seberapa besar kecepatan bola tenis saat lepas dari string raket). Penurunan radius pukulan lebih lanjut diperbesar pada petenis dengan backhand dua tangan yang menggabungkan penggunaan sikut dan pergelangan tangan lebih besar selama eksekusi pukulan. (Faktor lain yang tentu berpengaruh terhadap kecepatan bola termasuk: jenis raket dan string yang digunakan. Perlu diingat, bahwa bola tidak pernah menyentuh frame raket yang harganya 1 miliar, tetapi bola akan menyentuh string. Oleh karena itu, jenis string (playability vs durability), serta tegangannya juga harus diatur.

2. Peran Kekuatan Otot (muscular strength)

Kiranya sudah diterima umum bahwa teknik backhand satu tangan memerlukan kekuatan otot yang lebih besar (meskipun kekuatan lainnya berasal dari efisiensi teknik). Mengapa demikian ? Karena hanya satu bagian anggota tubuh atas saja yang digunakan untuk menghasilkan tenaga ketika mengayunkan raket, dan karena lengan tak dapat mengandalkan pada aksi togok sebanyak yang dilakukan pada backhand dua tangan. Hal ini berarti bahwa teknik backhand satu tangan sangat menuntut kekuatan yang lebih besar. Para petenis pemula yang menggunakan teknik backhand satu tangan sering mengalami kram pada sikutnya (Gropel, 1992), pegangan raketnya sangat dekat dengan tubuhnya, itulah alasan sebenarnya mengapa para petenis pemula tidak memiliki kemampuan fisik untuk menggerakkan raketnya secara efisien. Sebaliknya, gerakan yang menyebabkan keram jarang terjadi pada teknik backhand dua tangan karena gerak ayunannya menuntut sikutnya untuk lebih dekat dengan tubuhnya. Selain itu pula, tidak mengalami kesulitan untuk mengayunkan raketnya dengan dua tangan pada handlenya dari pada dipegang dengan satu tangan.  Jika petenis pemula memiliki kesulitan mengayunkan raket dengan backhand satu tangan, maka kontrol kepala raket yang kurang benar akan menyebabkan: (1) penempatan pukulan yang kurang baik, (2) kesulitan mengeksekusi pukulan spin, (3) kepala raket memutar selama dan setelah terjadi impact, (4) keterlambatan kontak bola dengan raket (Groppel, 1992)

Untuk mencegah terjadinya hal ini, maka para pelatih menganjurkan petenis untuk mendahulukan gerakan sikutnya atau menempatkan kepala raketnya lebih awal  tepat sebelum impact untuk membantu mendorong bola ke arah net.

Penggunaan backhand dua tangan dapat menurunkan kesulitan-kesulitan tersebut (meskipun tidak selalu !). Benar sekali bahwa dengan teknik pegangan dua tangan, maka petenis akan mampu mengayunkan raketnya ke arah atas dengan efektif dan mempertahankan kontrol raket lebih baik, khususnya ketika memulai pukulan topspin.

3. Pantulan Bola Rendah

Salah satu pukulan yang menjadi masalah bagi para petenis dengan backhand dua tangan adalah memukul bola yang pantulan bolanya rendah di depan tubuh. Sangat jelas, dengan kedua tangan pada raketnya, maka petenis harus merendahkan tubuhnya untuk mengembalikan bola tersebut. Dengan teknik backhand satu tangan, tubuh petenis tidak perlu direndahkan. Oleh karena itu, petenis dengan backhand dua tangan harus mencapai bola lebih cepat untuk sampai pada posisi impact yang lebih tinggi atau harus belajar memukul bola rendah dengan satu tangannya.

 

4. Pantulan Bola Tinggi

Para pelatih yang menganjurkan kedua teknik backhand ini menyatakan bahwa bola yang memantul tinggi dapat dipukul lebih efektif dengan teknik backhand yang disukai petenis.  Tetapi semua ini tergantung pada kemampuan fisik petenis dan tipe pukulan yang dilakukan. Sangatlah sulit untuk memukul topspin dengan backhand satu tangan untuk bola yang memantul pada ketinggian kepala. Pukulan backspin biasanya dianjurkan untuk posisi ini, dan bola biasanya tidak dapat dipukul dengan kecepatan sangat tinggi.  Sebagai pembanding, seorang petenis dengan backhand dua tangan dapat memukul secara agresif bola tersebut dengan pukulan flat atau topspin dan biasanya dengan kecepatan bola lebih tinggi dari pada dengan satu tangan.  Sangat sulit memukul bola tinggi dengan flat atau topspin menggunakan backhand satu tangan. Itulah sebabnya mengapa selalu disarankan untuk memukul backspin bagi petenis dengan backhand satu tangan.

5. Topspin

Kekuatan otot petenis (muscle strength) juga berperan penting dalam menghasilkan pukulan topspin. Pukulan topspin seringkali sulit untuk dilakukan dengan backhand satu tangan karena kekuatan tambahan yang diperlukan untuk mengayunkan raket dengan sudut raket yang tajam ketika raket bergerak ke arah atas. Sebagai perbandingan, mengeksekusi pukulan topspin dengan backhand dua tangan cukup sederhana; kekuatan yang diperoleh dari penggunaan kedua tangan memudahkan petenis untuk mencapai sudut ayunan ke arah atas yang diperlukan untuk menghasilkan topspin. Sekalipun demikian, para petenis seringkali memiliki masalah melakukan manuver raketnya dari atas ke bawah untuk pukulan backspin dan gerakan raket dari samping (side-to-side motion) untuk menghasilkan pukulan sidespin.  Beberapa petenis dua tangan akan melakukan penyesuaian ketika memukul backspin dengan gerakan lanjutan dengan hanya satu tangan untuk memfasilitasi gerak raket dari atas ke bawah. Meskipun beberapa petenis melakukan gerak lanjutan dengan kedua tangannya masih memegang raket, tetapi banyak petenis yang melakukan gerak lanjutan dengan hanya satu tangan yang memegang raket.  Gerak lanjutan satu tangan lebih memudahkan aksi raket yang lebih mulus setelah impact, yang memudahkan gerak raket dari atas ke bawah untuk memukul backspin.

Hanya untuk pengetahuan tambahan; mengapa hasil pukulan bola tenis (servis, ataupun groundstroke forehand dan backhand) bisa flat atau spin ? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jika arah gerak raket (direction of motion of racket) ketika kontak tepat mengenai bagian tengah bola (titik berat atau center of gravity bola tenis), maka bola tidak akan berputar (flat). Tetapi jika arah gerak raketnya dari bawah ke atas dan menggesek bagian atas bolanya (tidak mengenai titik berat bola, tetapi di atas titik berat bola), maka akan menghasilkan pukulan topspin. Ilustrasi ini bisa dilihat pada gambar 3 di bawah ini.

Hasil riset menunjukkan bahwa besar sudut optimum raket pada bidang vertikal menunjukkan 28° ketika kontak dengan bola tenis. (Knudson, 1991) (Mengapa demikian ? coba perhatikan proporsi persentase antara spin (45%) vs power (55%) pada gambar di bawah ini yang kemiringannya mendekati 28°. Bagaimanakah jawaban anda ? )

Gambar 3. Aplikasi spin pada bola tenis

(Angka persentase menunjukkan perbandingan antara topspin vs power   

yang dihasilkan, yaitu jika arah garis impact raket tepat mengenai titik   

berat bola tenis (garis lurus ke titik tengah bola = flat) atau tidak  

mengenai titik tengah bola = spin)

Tanpa memperhatikan jenis backhand yang telah dipilih petenis, maka penentu utama tipe dan jumlah spin yang diberikan pada bola adalah lintasan (trajectory) dan pengaturan raket ketika impact (lihat posisi kepala raket pada gambar di atas, yang ditunjukkan dengan garis putus-putus). Melakukan topspin dengan teknik dua tangan dianggap lebih sederhana berdasarkan kekuatan tambahan yang diberikan tangan lainnya. Temuan-temuan riset saat ini memberikan dukungan terhadap pandangan ini dengan menjelaskan bahwa untuk memperoleh kecepatan vertikal yang tinggi yang diperlukan untuk memukul lob yang efektif, maka teknik backhand satu tangan perlu menurunkan akselerasi horisontal raket menuju impact.  Sebaliknya, petenis yang menggunakan backhand dua tangan tidak memiliki kesulitan seperti itu dan dapat terus untuk mengembangkan kecepatan horisontal dan vertikal ke arah posisi impact.

6. Jangkauan Raket (Reach)

Karena kedua tangannya digunakan oleh petenis backhand dua tangan, maka tidaklah mengherankan apabila petenis backhand satu tangan dinyatakan memiliki keunggulan terhadap  backhand dua tangan dalam hal jangkauan raketnya. Riset yang dilakukan Groppel terhadap 36 petenis terampil dengan menggunakan kamera kecepatan tinggi (high-speed film), hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam jangkauan  antara kedua teknik backhand ketika petenis dalam posisi siap untuk melakukan ayunan menuju impact. Petenis yang menjadi subjek riset ini tidak diharuskan berlari untuk persiapan pukulan, maka kontak bola untuk kedua teknik backhand ini terjadi pada jarak yang hampir sama dari tubuhnya. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan berikut: bagaimanakah dengan situasi dimana seorang petenis benar-benar berada pada posisi jangkauan terjauh ketika pengembalian backhand. Kita dapat menunjukkan bagaimana petenis profesional dapat melakukannya dengan backhand satu tangan, tetapi bagaimana bagi petenis yang menggunakan backhand dua tangan ?  Apakah petenis ini juga bisa melakukannya ? Kemungkinan sedikit mengalami hambatan !  Sekalipun demikian, berapa banyakkah petenis yang mampu melakukannya dengan backhand satu tangan dan menjadi juara ? Kebanyakan dari pukulan tersebut dapat dikembalikan hanya sebagai pukulan pengembalian saja dengan backspin atau lob, dan bukannya pukulan tajam, atau pukulan menyerang. Jadi seorang petenis yang memiliki teknik backhand dua tangannya efektif, maka dapat mempelajari bagaimana mengeksekusi pukulan tersebut dan mengembangkan pukulan bertahan atau lob. Oleh karena itu, hal ini tidaklah rasional untuk menghindari atau tidak mengajarkan teknik backhand dua tangan hanya karena alasan lemah dalam hal jangkauan raketnya.

 

7. Penguasaan Keterampilan (Skill acquisition)

Apakah pukulan backhand lebih mudah untuk dipelajari ? Nampaknya seorang petenis akan dapat mengembangkan keterampilan memukul bola tenis dengan dua tangannya lebih cepat. Jika kita harus berlatih memukul dengan salah satu teknik backhand ini dan kita mengetahui bahwa seluruh karakteristik dari tiap tekniknya sama kecuali perbedaan dalam menggunakan dua segmen tubuh utama dan yang lainnya menggunakan lima segmen tubuh. Teknik backhand manakah yang kita anggap lebih mudah untuk dipelajari ? dan apakah bisa jika kita belajar memukul bola dengan teknik dua tangan dan nantinya ingin mengubah menjadi teknik satu tangan ? Banyak para pelatih profesional terkenal dapat membantu untuk mengubahnya kemudian, mereka menyarankan untuk mengembangkan keterampilan dasarnya dengan teknik backhand mana saja yang dipilih terlebih dahulu dan kemudian nantinya dapat diubah jika petenis menginginkannya (kasus ini terjadi pada beberapa petenis profesional dunia)

 Dari perspektif penguasaan keterampilan (seberapa cepat dan seberapa baik hasil belajar keterampilan tenis), kebutuhan kekuatan dan besarnya keterlibatan berbagai segmen tubuh, ternyata telah membingungkan isu tentang dua jenis teknik ini yang sebaiknya diajarkan. Selagi kemampuan koordinatif merupakan faktor terpenting dalam proses pembelajaran teknik ini (Schonborn, 1998), maka asumsinya sangat logis bahwa jenis backhand satu tangan memerlukan kekuatan tambahan untuk melakukan pukulan. Hal ini ternyata merupakan faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran dimana pukulan ini dapat dilakukan oleh pemain pemula atau junior.

Begitu pula, nampak bahwa berkurangnya segmen-segmen tubuh yang digunakan secara independen selama backhand dua tangan (yaitu segmen yang berbeda bergerak bersamaan) ternyata dapat melakukan persiapan impact lebih mudah ketimbang dengan pukulan satu tangan (yaitu dimana segmen-segmen menggerakkan salah satu segmen setelah segmen lainnya bergerak) dan memfasilitasi kemudahan dimana petenis dapat menanggulangi bola-bola yang tingginya bervariasi (Elliott & Saviano, 2001).

8. Kamuflase (disguise)

Selagi literatur pada akhir tahun 1970-an secara terus menerus menunjukkan backhand dua tangan lebih unggul ketimbang backhand satu tangan dalam hal “kamuflase”, maka atribut mekanika yang membantu untuk mendukung pengakuan tersebut tidak pernah berhasil.

Meskipun temuan-temuan riset saat ini menyarankan bahwa penggunaan teknik dua tangan dapat memberikan keuntungan dalam kasus ini. Yaitu, dengan forwardswing yang lebih pendek dan akselerasi vertikal dan horisontal yang lebih cepat ke arah bola, maka petenis dengan backhand dua tangan dapat menyebabkan lawannya memiliki sedikit waktu untuk menditeksi berbagai variabel kinematic (kinematic variable), yang selanjutnya dapat memberikan informasi antisipasi tentang arah, kecepatan dan jalur lintasan pukulan lawannya.  Selain itu pula, meskipun petenis dengan backhand dua tangan tidak nampak menggerakkan tangan yang atasnya (yaitu tangan yang dekat dengan rongga raket) untuk tujuan kamuflase ketika waktu yang memadai tersedia untuk mengatur pukulannya, menjentikkan (flicking) bola menyilang lapangan atau ke atas kepala lawan (lob) dengan pergelangan tangannya, nampaknya dapat teramati, dan digunakan untuk memperoleh keuntungan taktis, yaitu ketika petenis memiliki sedikit waktu untuk kembali ke posisi seimbang dan sikap siap (seringkali kita amati di televisi !)

9. Backhand dengan posisi Open Stance

Perubahan-perubahan yang semakin meningkat dari permainan tenis modern ini dan tekanan waktu yang dialami para petenis ketika bertanding, telah menyebabkan munculnya sejumlah petenis yang menggunakan posisi open stance.  Dari perspektif pemulihan gerak dan taktik, maka adaptasi teknik ini membantu meringankan tekanan waktu dan memudahkan para petenis untuk memulihkan kembali posisinya di lapangan secara lebih efisien. Jelas, hal ini merupakan salah satu bahasan dimana penggunaan segmen tubuh kedua bagian atas merupakan bantuan yang besar sekali bagi para petenis yang menggunakan backhand dua tangan.  Kekuatan tambahan yang diberikan akan memudahkan petenis untuk melakukan pivot (memutar kaki) pada tungkainya, memutar bahunya dengan baik melampaui panggulnya (menerapkan regangan awal yang cepat ke otot-otot perut), sehingga memudahkan pukulannya terutama ketika sedang tertekan di daerah belakang lapangan permainan. Sebaliknya, para petenis dengan backhand satu tangan dapat menggunakan stance ini secara efektif ketika bermain tenis dengan backswing pendek dari posisi relatif diam (seperti posisi mengembalikan servis) atau memainkan bola-bola dengan pantulan lebih tinggi dekat kaki belakang. Meskipun secara khusus, semi-closed stance lebih banyak dipilih karena memudahkan petenis dengan kombinasi jalur lintasan yang lebih panjang untuk mengembangkan kecepatan raket dan posisi impactnya yang lebih baik (dalam hal stabilitas dan kekuatan)

 

10. Variasi teknik backhand dua tangan

Nampaknya semakin lebih jelas ketika mengamati para petenis profesional dunia, yaitu terdapatnya beberapa variasi mekanika diantara para petenis yang menggunakan teknik backhand dua tangan ini. Variasi ini, terutama dalam hal interaksi antar segmen dan perpindahan anguler dari dua segmen tubuh bagian atasnya (yaitu, gerak sendi sikut dan pergelangan tangan; (Reid & Elliott, 2001), yang menunjukkan adanya perbedaan dalam jalur lintasan raket dan pengaturan posisi menuju impact. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat digambarkan dengan jelas misalnya dalam perbandingan antara backhand dua tangan Djokovic dengan Nadal (sama atau berbeda ? manakah yang lebih efisien menurut anda ?)

 

 

RFERENSI

  1. Carr, G. (1997). Mechanics of Sport: A Practitioner’s Guide. Human Kinetics
  2. Elliott, B. C., Marsh, A. P. & Overheu, P. R. (1989). The topspin backhand drive in tennis: a biomechanical analysis. Journal of Human Movement Studies, 16, 1-16.
  3. Groppel, J. L. (1978). Kinematic analysis of the tennis one-handed and two-handed backhand drives of highly-skilled female competitors., Florida State University.
  4. Groppel, J. L. (1992). High Tech Tennis. Champaign, IL: Leisure Press.
  5. Reid, M. M. & Elliott, B. C. (2001). The One-and Two-Handed Backhands in Tennis. Journal of Sport Biomechanics, In press.
  6. Schonborn, R. (1998). Advanced training techniques for competitive players. Meyer & Meyer Verlag, Aachen, Germany.
  7. Wang, L-H., Wu, H. W., Su, F. C. & Lo, K. C. (1998). Kinematics of the upper limb and truck in tennis players using single-handed backhand strokes. In H. Riehle, & M. Vieten (eds.), ISBS XVI (pp.273-275). Taiwan: University of Konstanz.

 

You can share this post!